TERIMA KASIH ATAS KEPERCAYAAN DAN DUKUNGANYA
SELAMAT BERGABUNG BERSAMA KAMI


05 OKTOBER 2018---Sdr. ARIS SUBIANTORO (PETERNAK &PEDAGANG) dari KEDIRI---Sdr. SIGIT dari TASIKMALAYA---Sdr. H. JUMAT dari BONDOWOSO---Sdr. ATILPA WILDAN NASRULLAH dari MAJALENGKA---Sdr. ENGKOS / TEDI WAHYUDI dari CIAMIS---Sdr. AGUS dari CIAMIS---Sdr. YENI YUNENGSIH dari TASIKMALAYA

PASTIKAN KEAKURATAN SUMBER INFORMASI ANDA LANGSUNG DARI INFO HARGA TELUR UNGGAS INDONESIA
CENTRAL INFORMASI HARGA TELUR BLITAR
PROFESIONAL, INDEPENDEN DAN TERPERCAYA


PASTIKAN ANDA TIDAK KETINGGALAN INFORMASI HARI INI DENGAN MENJADI ANGGOTA SMS INFO HARGA TELUR UNGGAS INDONESIA

CARANYA

KETIK GABUNG KIRIMKAN KE NOMOR DIBAWAH INI

085755064745


SELALU BERKOMITMEN MENJAGA INFORMASI YANG KONTINYU DAN INDEPENDEN TANPA INTERVENSI DARI PIHAK MANAPUN

INFO HARGA TELUR UNGGAS INDONESIA
ACUAN STANDAR HARGA TELUR BLITAR YANG INDEPENDEN DAN TERPERCAYA
UNTUK KETERANGAN LEBIH LANJUT :
SMS/WhatsApp

085755064745

Pengukuran tingkat produksi telur

Produksi telur dicatat dengan tujuan untuk mengetahui tingkat produksi yang dihasilkan setiap hari, sehingga dapat dibandingkan dengan produksi sebelumnya.

Ada beberapa standar yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat produksi di Indonesia, antara lain sebagai berikut:

  • HD (Hen - day)
    HD (Hen - day) merupakan perbandingan antara produksi telur yang diperoleh hari itu dan jumlah ayam pada hari itu juga, dikalikan dengan 100%, yang dirumuskan sebagai berikut:

    HD = (JP/JA) x 100%
    JP = Jumlah Produksi
    JP = Jumlah Ayam

    Misalnya:
    Produksi hari ini = 845 butir
    Jumlah ayam hari ini = 1000 ekor

    maka, HD = (845/1000) x 100% = 84,5 %

  • Produksi Mingguan


    HD= (Jumlah telur selama 1 minggu / Jumlah rata-rata ayam dalam 1 minggu) x 100 %

    misalnya:
    Jumlah rata-rata ayam dalam 1 minggu: 998,57 ekor
    Jumlah telur dalam 1 minggu: 5.758 butir

    =(5758/998,57) x 100% = 82,38 %

  • Pengafkiran
    Secara alami, produksi telur semakin menurun karena faktor umur yang semakin tua. Dengan alasan semacam itu, maka ayam petelur tidak layak dipelihara lagi, karena biaya produksi menjadi lebih tinggi dibandingkan penerimaan hasil penjualan telur. Hal ini secara sederhana dapat diperhitungkan dengan rumus sebagai berikut:

    (PT x HT) - (KR x HR + BP)

    PT = Produksi Telur
    HT = Harga Jual Telur
    KR = Jumlah Ransum
    HR = Harga Ransum
    BP = Biaya Pemeliharaan

    Jika hasil pengurangan itu mendekati nilai nol atau negatif, maka peternak harus mengafkir kelompok ayam dipeliihara tersebut secara massal. Sebab ayam yang semakin tua akan menjadi beban, karena biaya produksi sudah lebih besar daripada pendapatan.