TERIMA KASIH ATAS KEPERCAYAAN DAN DUKUNGANYA
SELAMAT BERGABUNG BERSAMA KAMI


15 MARET 2018---Sdr. CHICAN dari TASIKMALAYA---Sdr. Drh. BUDI ARMUNARTO dari CIAMIS---Sdr. ANDRI SANTOSO dari KEDIRI---Sdr. OYO SUYONO dari KUNINGAN---Sdr. ERICA AGUSTIN dari KUNINGAN---Sdr. ARIF RAHMAN dari TASIKMALAYA---

PASTIKAN KEAKURATAN SUMBER INFORMASI ANDA LANGSUNG DARI INFO HARGA TELUR UNGGAS INDONESIA
CENTRAL INFORMASI HARGA TELUR BLITAR
PROFESIONAL, INDEPENDEN DAN TERPERCAYA


PASTIKAN ANDA TIDAK KETINGGALAN INFORMASI HARI INI DENGAN MENJADI ANGGOTA SMS INFO HARGA TELUR UNGGAS INDONESIA

CARANYA

KETIK GABUNG KIRIMKAN KE NOMOR DIBAWAH INI

085755064745


SELALU BERKOMITMEN MENJAGA INFORMASI YANG KONTINYU DAN INDEPENDEN TANPA INTERVENSI DARI PIHAK MANAPUN

INFO HARGA TELUR UNGGAS INDONESIA
ACUAN STANDAR HARGA TELUR BLITAR YANG INDEPENDEN DAN TERPERCAYA
UNTUK KETERANGAN LEBIH LANJUT :
SMS/WhatsApp

085755064745

Swollen Head Syndrome (SHS)

Swollen Head Syndrome (SHS) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh avian pneumovirus. Serangan SHS sering di ikuti oleh infeksi bakteri, terutama Escherica coli. Penyakit ditandai dengan gangguan pernapasan, kebengkakan periocular, kebengkakan kepala dan penurunan produksi telur.

Penyebab Penyakit
Swollen Head Syndrome (SHS) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh avian pneumovirus. Virus ini dapat menyebabkan penyakit serupa pada kalkun yaitu Turkey Rhinotracheitis (TRT) yang hanya menyerang kalkun. Virus ini dikelompokan dalam genus pseudomyxo virus dan diberi nama avian pneumovirus. SHS dapat menyerang ayam pedaging pada umur 15 hari, tetapi sering menginfeksi ayam pedaging pada umur 3-5 minggu. Infeksi SHS pada ayam petelur umumnya terjadi pada saat permulaan produksi telur. Bisa diikuti dengan penurunan produksi telur 5-40%. Angka kesakitan akibat penyakit ini berkisar antara 5-20% dan dapat naik sampai 60%. Angka kematian berkisar 3-13%, bila ada komplikasi dengan infeksi sekunder coliform bisa mencapai 20%.

Gejala Penyakit
Ayam penderita SHS pada awalnya gejala bersin-bersin, kemudian conjunctiva akan memerah dan kelenjar air mata membengkak. Ayam menjadi enggan berpindah tempat, tampak menggoyang-goyangkan kepala, mengeluarkan airmata, memutar-mutarkan leher dan menggarukan daerah periorbital ke daerah anterior sayap atau menggarukkan sayap kedaerah mata. Akhirnya terjadi kebengkakan pada jaringan dan semua bagian kepala. Beberapa ayam terinfeksi dapat mengalami radang pada telinga tengah sehingga menyebabkan inkoordinasi dan tampak gejala torticolis serupa ND. Pada bedah bangkkai terlihat perubahan-perubahan : mukosa pada rongga hidung, katup palatine dan saluran pernapasan bagian atas mengalami : pembendungan, titik kemerahan dan luka-luka kematian jaringan. Sinusitis jarang ditemukan, hanya ada jika kasusnya akut. Cellulitis pada bagian dorsal kepala, ruangan intermandibular dan pial, kemudian diikuti dengan terjadinya infeksi sekunder. Jika ayam tahan pada fase akut infeksi, kebengkakan berkurang tetapi jaringan jengger dan intermandibullar menjadi keras.
Penularan Penyakit
Penularan penyakit hanya secara horizontal. Penularan secara vertikal tidak ditemukan. Pengobatan:
Hanya diberikan vitamin dan antibiotik untuk pencegahan infeksi sekunder.



---semoga bermanfaat---



baca juga:

Chronic Respiratory Disease (CRD)