TERIMA KASIH ATAS KEPERCAYAAN DAN DUKUNGANYA
SELAMAT BERGABUNG BERSAMA KAMI


05 OKTOBER 2018---Sdr. ARIS SUBIANTORO (PETERNAK &PEDAGANG) dari KEDIRI---Sdr. SIGIT dari TASIKMALAYA---Sdr. H. JUMAT dari BONDOWOSO---Sdr. ATILPA WILDAN NASRULLAH dari MAJALENGKA---Sdr. ENGKOS / TEDI WAHYUDI dari CIAMIS---Sdr. AGUS dari CIAMIS---Sdr. YENI YUNENGSIH dari TASIKMALAYA

PASTIKAN KEAKURATAN SUMBER INFORMASI ANDA LANGSUNG DARI INFO HARGA TELUR UNGGAS INDONESIA
CENTRAL INFORMASI HARGA TELUR BLITAR
PROFESIONAL, INDEPENDEN DAN TERPERCAYA


PASTIKAN ANDA TIDAK KETINGGALAN INFORMASI HARI INI DENGAN MENJADI ANGGOTA SMS INFO HARGA TELUR UNGGAS INDONESIA

CARANYA

KETIK GABUNG KIRIMKAN KE NOMOR DIBAWAH INI

085755064745


SELALU BERKOMITMEN MENJAGA INFORMASI YANG KONTINYU DAN INDEPENDEN TANPA INTERVENSI DARI PIHAK MANAPUN

INFO HARGA TELUR UNGGAS INDONESIA
ACUAN STANDAR HARGA TELUR BLITAR YANG INDEPENDEN DAN TERPERCAYA
UNTUK KETERANGAN LEBIH LANJUT :
SMS/WhatsApp

085755064745

HARGA TELUR TIDAK HARUS SERAGAMKAH ?

artikel ini dikirim oleh:

Mas Fauzi Ponorogo




Seraaagam!!! Kayak mau sekolah SD saja, pakai seragam. Tidak dipungkiri bahwa harga pasar sangat ditentukan oleh permintaan dan persediaan.Suatu misal pemerintah ingin menurunkan harga sembako dengan cara operasi pasar yang dilaksanakan secara acak ditempat tertentu. Masalahnya adalah apakah langkah tersebut dapat meredam harga sembako tersebut. Sebelum menjawab secara pasti akan saya utarakan analisisnya. Dulu pada saat harga minyak goreng dilevel 12ribuan, pemerintah sangat getol melakukan operasi pasar dengan tujuan menurunkan harga dengan dibantrol 8ribu per kgnya. Tapi kenyataannya apa, dipasar-pasar tidak terjadi perubahan apa-apa, harga tetap tak bergeming tetap saja masih tinggi. Tapi saat Amerika dilanda krisis dan berefek ke krisis global, negara ekportir sawit terbesar dunia yaitu Indonesia dan Malaysia kehilangan pasar potensial terbesarnya. Tentu saja berimbas pada Indonesia karena merupakan salah satu produsen sawit terbesar selain Malaysia. bahan baku minyak goreng (sawit) dijual dengan harga yang sangat murah karena sawit over produksi sedangkan pabrik tidak bisa jual barang produksinya terutama keperluan ekspornya dan otomatis harga minyak turun dengan sendirinya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa harga pasar akan berlaku hukum ekonomi, semakin banyak permintaan dan persediaan berkurang pasti akan melambungkan harga produk tersebut begitu pula sebaliknya.






Begitu pula yang terjadi pada harga telur akhir-akhir ini. Kemarin dulu PS-PS besar dikota kami yang merupakan rujukan penentuan harga kulakan (biasanya standart harga Blitar) berusaha menahan dikisaran harga 11ribu.
Namun harga dilapangan menyatakan lain ada yang mematok harga 10800, 10700 bahkan ada yang berani pasang harga 10500. Kemarin lalu saat PS memberi patokan harga dikisaran 10800an, di lapangan harga pada kisaran 10600-10300. Memang kalau peternak sudah kepepet, kepentok, panic, telur menumpuk sedangkan kebutuhan untuk pakan menipis apapun akan dilakukan agar dagangannya laku dan cari selamat sendiri-sendiri. Lebih panic lagi kalau telornya diperkirakan beberapa hari lagi akan segera busuk. Akan terjadi sebaliknya jika telur rame maka standart harga Blitar dipakai. Alasannya adalah saat rame biasanya loper besar mendatangkan telurnya dari Blitar, karena produksi telur local akan terserah sepenuhnya oleh pasar local juga, sehingga mau gak mau tetap menggunakan standart harga Blitar. Gampangnya kondisi harga telur lesu seperti sekarang ini telur Blitar gak sampai sini, yang main adalah dari Magetan dan Takeran.

Rusaknya harga telur dikampung-kampung juga disebabkan oleh banyaknya pedagang-pedagang telur level besar yang biasa mensuplay di pasar-pasar turun kampung. Karena dipasar pasar telur sudah jenuh sehingga mereka menjajah ke kampung-kampung yang tidak mereka lakukan kalau telur sedang rame. Dengan jurus rayuan dan iming-iming harga yang lebih miring loper mempengaruhi pembelir.

Kira-kira dialognya mungkin seperti ini :

Pedagang telur akan mendatangi toko-toko dan akan berkata kurang lebih begini :

Pedagang : Telur Bu ?

Calon Pembeli : Nggak pak, sudah punya langganan

Pedagang : Biasanya beli dimana ?

Calon Pembeli : Pak Fauzi.

Pedagang : Terakhir dikasih harga berapa ?

Calon Pembeli : 10800, tinggal sms sudah diantar kesini.

Pedagang : Biasanya ibu ambil berapa kg ?

Calon Pembeli : biasanya ya 15 kg.

Pedagang : Saya berani 10550.

Calon Pembeli : yo wis kalau gitu, saya ambil 15 kg aja.

Kelihatannya memang sangat kurang ajar tapi realistis. Itulah dunia dagang. Ada banyak trik agar orang tertarik dan mau membeli dagangan kita.

Setelah berhari-hari bahkan berminggu-minggu gak beli ke kandang juga gak sms, akhirnya saya sendiri yang punya inisiatif untuk telpon ke pelanggan dan dia mengatakan bahwa telurnya masih. Bagaimanapun perasaan curiga pasti ada dan saya sempatkan datang ke tokonya. Setelah sampai di toko, pertanyaan pertama saya adalah sbb :

Saya : Bu sampean kok sudah lama gak beli ke saya.

Pelanggan : Lha wong hargae karo sampean selisih 250 rupiah lho pak.

Saya : O… gitu tho. Saya jelaskan bu ya. Loper-loper itu mau datang ke kampung-kampung sebabe pasar sepi, kalo telur lagi rame gak mungkin sampe sini. Tapi terserah ibu, kalau nanti gak ada loper keliling lagi kalau ibu mau ambil ditempatku silahkan tapi gak jamin ada. Sebab ibu kalau telur lagi sepi gini gak mau bantu jual telur saya.

Pelanggan : minta maaf lho pak.

Saya : gak papa bu.

Begitulah adanya kondisi riil di lapangan. Kadang memang pelanggan itu memang cari enake sendiri thok. Saat telur rame biyayakan minta didahulukan, minta sesuai dengan yang diminta. Aku sudah terbiasa dengan prinsip kalau pelanggan setia kepada kita maksudnya kalau lagi sepi tetap beli ditempat kita, sedangkan saat rame kita selalu memberi jatah kepada mereka seperti biasanya sehingga bisnis lancar dan saling menguntungkan.

Demikian, semoga menjadi inspirasi.